Berbicara soal pengalaman, ada satu pepatah lama yang selalu mengusik pikiran saya. Sejak duduk di Sekolah Dasar, saya tertarik dengan kalimat pendek yang selalu tertulis di bagian bawah buku tulis yang saya beli untuk buku catatan harian saya di sekolah. Kalimat pendek yang mengusik pikiran saya sampai sekarang.
"Experience is the best teacher." atau dapat diartikan sebagai "Pengalaman adalah guru paling baik." Ya kurang lebih seperti itulah yang selalu saya baca di buku tulis sekolah. Dari sejak duduk di Sekolah Dasar, sampai lulus SMK, entah kenapa saya masih tidak dapat menyetujui pepatah tersebut, Karena saya pikir, guru paling baik adalah orang tua, bukan pengalaman. Karena orang tua adalah pengajar pertama dan selalu mengajarkan tentang segala hal dari sejak kita kecil. Di usia saya yang belum genap menginjak 20 tahun ini, Alhamdulillah sudah banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan.Tapi tetap saja saya belum mengerti, bagaimana bisa pengalaman dijadikan seorang guru?
Seiring beranjak dewasa, saya mulai dihadapkan pada masalah-masalah yang rumit, yang terkadang membuat saya kalah sebelum berperang untuk melewatinya. Saya selalu mencoba terus melangkah sampai saya kira mampu. Hingga pada saat ini, saya resmi menyetujui bahwa memang "Experience is the best teacher."
Karena ternyata, menurut saya pengalaman yang membuat kita berwawasan. Pengalaman adalah proses mempelajari sesuatu, bukan hanya melalui teori, tetapi melalui praktik langsung pada proses kehidupan. Ada satu pepatah yang saya pernah temukan di buku pelajaran Bahasa Inggris sewaktu SMP, yang sampai sekarang menjadi quote favorite saya.
"What I hear, I forget.
What I see, I remember.
And what I do, I understand."
Ya seperti itulah, apa yang kita dengar, tak bisa selamanya kita ingat. Begitu pula dengan apa yang kita lihat, mungkin memang lebih bisa diingat, tapi hanya untuk waktu yang terbatas dan hanya sekedar diingat saja. Tapi apa yang kita lakukan akan kita pahami, karena memang dilakukan oleh diri sendiri.
Semua hal yang manusia lakukan adalah pengalaman. Dari pengalaman, kita tahu cara mengerjakan sesuatu. Walaupun terkadang tidak semua pengalaman terasa menyenangkan. Karena memang hakikatnya semua proses akan menemui kegagalan. Tapi, belajar lah dari pengalaman, bukan dari kegagalan. Jika pengalaman memberi kegagalan, setidaknya kita bisa belajar untuk tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Untuk selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan, dan tetap melanjutkan langkah meskipun terperosok pada lubang kegagalan.
Jadi, untuk apa masih berdiam ditempatmu? Mari cari ribuan pengalaman, karena ia bisa menjadi guru untuk mata pelajaran apapun yang kau mau!
Keep being you, and let's moving on!
Japan, 23 Mei 2017.
Tiara Fawzia Muhtar
Seiring beranjak dewasa, saya mulai dihadapkan pada masalah-masalah yang rumit, yang terkadang membuat saya kalah sebelum berperang untuk melewatinya. Saya selalu mencoba terus melangkah sampai saya kira mampu. Hingga pada saat ini, saya resmi menyetujui bahwa memang "Experience is the best teacher."
Karena ternyata, menurut saya pengalaman yang membuat kita berwawasan. Pengalaman adalah proses mempelajari sesuatu, bukan hanya melalui teori, tetapi melalui praktik langsung pada proses kehidupan. Ada satu pepatah yang saya pernah temukan di buku pelajaran Bahasa Inggris sewaktu SMP, yang sampai sekarang menjadi quote favorite saya.
"What I hear, I forget.
What I see, I remember.
And what I do, I understand."
Ya seperti itulah, apa yang kita dengar, tak bisa selamanya kita ingat. Begitu pula dengan apa yang kita lihat, mungkin memang lebih bisa diingat, tapi hanya untuk waktu yang terbatas dan hanya sekedar diingat saja. Tapi apa yang kita lakukan akan kita pahami, karena memang dilakukan oleh diri sendiri.
Semua hal yang manusia lakukan adalah pengalaman. Dari pengalaman, kita tahu cara mengerjakan sesuatu. Walaupun terkadang tidak semua pengalaman terasa menyenangkan. Karena memang hakikatnya semua proses akan menemui kegagalan. Tapi, belajar lah dari pengalaman, bukan dari kegagalan. Jika pengalaman memberi kegagalan, setidaknya kita bisa belajar untuk tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Untuk selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan, dan tetap melanjutkan langkah meskipun terperosok pada lubang kegagalan.
Jadi, untuk apa masih berdiam ditempatmu? Mari cari ribuan pengalaman, karena ia bisa menjadi guru untuk mata pelajaran apapun yang kau mau!
Keep being you, and let's moving on!
Japan, 23 Mei 2017.
Tiara Fawzia Muhtar